Republished by Sapi Qurban Kurban Cipelang Farm
3) Teknologi Pakan
Teknologi pakan ternak ruminansia meliputi kegiatan pengolahan bahan
pakan yang bertujuan meningkatkan kualitas nutrisi, meningkatkan daya
cerna dan memperpanjang masa simpan. Sering juga dilakukan dengan
tujuan untuk mengubah limbah pertanian yang kurang berguna menjadi
produk yang berdaya guna.
Pengolahan bahan pakan yang dilakukan secara fisik (pemotongan rumput
sebelum diberikan pada ternak) akan memberi kemudahan bagi ternak yang
mengkonsumsinya. Pengolahan secara kimiawi (dengan menambah
beberapa bahan kimia pada bahan pakan agar dinding sel tanaman yang
semula berstruktur sangat keras berubah menjadi lunak sehingga
memudahkan mikroba yang hidup di dalam rumen untuk mencernanya.
Banyak teknik pengolahan telah dilakukan di negara-negara beriklim subtropis
dan tropis, akan tetapi sering menyebabkan pakan menjadi tidak
ekonomis dan masih memerlukan teknik-teknik untuk memodifikasinya,
terutama dalam penerapannya di tingkat peternak.
Beberapa teknik pengolahan bahan pakan yang mudah dilakukan di
lapangan adalah:
a) Pembuatan Hay
Hay adalah tanaman hijauan pakan ternak, berupa rumputrumputan/
leguminosa yang disimpan dalam bentuk kering berkadar air:
20-30%.
Pembuatan Hay bertujuan untuk menyeragamkan waktu panen agar tidak
mengganggu pertumbuhan pada periode berikutnya, sebab tanaman yang
seragam akan memilik daya cerna yang lebih tinggi. Tujuan khusus
pembuatan Hay adalah agar tanaman hijauan (pada waktu panen yang
berlebihan) dapat disimpan untuk jangka waktu tertentu sehingga dapat
mengatasi kesulitan dalam mendapatkan pakan hijauan pada musim
kemarau.
Ada 2 metode pembuatan Hay yang dapat diterapkan yaitu:
1) Metode Hamparan
Merupakan metode sederhana, dilakukan dengan cara meghamparkan
hijauan yang sudah dipotong di lapangan terbuka di bawah sinar
matahari. Setiap hari hamparan di balik-balik hingga kering. Hay yang
dibuat dengan cara ini biasanya memiliki kadar air: 20 - 30% (tanda:
warna kecoklat-coklatan).
2) Metode Pod
Dilakukan dengan menggunakan semacam rak sebagai tempat
menyimpan hijauan yang telah dijemur selama 1 - 3 hari (kadar air ±
TTG BUDIDAYA PERIKANAN
Hal. 9/ 13
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
50%). Hijauan yang akan diolah harus dipanen saat menjelang
berbunga (berkadar protein tinggi, serat kasar dan kandungan air
optimal), sehingga hay yang diperoleh tidak berjamur (tidak berwarna
“gosong”) yang akan menyebabkan turunnya palatabilitas dan kualitas.
b) Pembuatan Silase
Silase adalah bahan pakan ternak berupa hijauan (rumput-rumputan atau
leguminosa) yang disimpan dalam bentuk segar mengalami proses
ensilase. Pembuatan silase bertujuan mengatasi kekurangan pakan di
musim kemarau atau ketika penggembalaan ternak tidak mungkin
dilakukan.
Prinsip utama pembuatan silase:
1. menghentikan pernafasan dan penguapan sel-sel tanaman.
2. mengubah karbohidrat menjadi asam laktat melalui proses fermentasi
kedap udara.
3. menahan aktivitas enzim dan bakteri pembusuk.
Pembuatan silase pada temperatur 27-35 derajat C., menghasilkan
kualitas yang sangat baik. Hal tersebut dapat diketahui secara
organoleptik, yakni:
1. mempunyai tekstur segar
2. berwarna kehijau-hijauan
3. tidak berbau
4. disukai ternak
5. tidak berjamur
6. tidak menggumpal
Beberapa metode dalam pembuatan silase:
1. Metode Pemotongan
- Hijauan dipotong-potong dahulu, ukuran 3-5 cm
- Dimasukkan kedalam lubang galian (silo) beralas plastik
- Tumpukan hijauan dipadatkan (diinjak-injak)
- Tutup dengan plastik dan tanah
2. Metode Pencampuran
Hijauan dicampur bahan lain dahulu sebelum dipadatkan (bertujuan
untuk mempercepat fermentasi, mencegah tumbuh jamur dan bakteri
pembusuk, meningkatkan tekanan osmosis sel-sel hijauan. Bahan
campuran dapat berupa: asam-asam organik (asam formiat, asam
sulfat, asam klorida, asam propionat), molases/tetes, garam, dedak
padi, menir /onggok dengan dosis per ton hijauan sebagai berikut:
- asam organik: 4-6kg
- molases/tetes: 40kg
- garam : 30kg
- dedak padi: 40kg
- menir: 35kg
Republished by Sapi Qurban Kurban Cipelang Farm
TTG BUDIDAYA PERIKANAN
Hal. 10/ 13
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
- onggok: 30kg
Pemberian bahan tambahan tersebut harus dilakukan secara merata ke
seluruh hijauan yang akan diproses. Apabila menggunakan
molases/tetes lakukan secara bertahap dengan perbandingan 2 bagian
pada tumpukan hijauan di lapisan bawah, 3 bagian pada lapisan tengah
dan 5 bagian pada lapisan atas agar terjadi pencampuran yang merata.
3. Metode Pelayuan
- Hijauan dilayukan dahulu selama 2 hari (kandungan bahan kering
40% - 50%.
- Lakukan seperti metode pemotongan
c) Amoniasi
Amoniasi merupakan proses perlakuan terhadap bahan pakan limbah
pertanian (jerami) dengan penambahan bahan kimia: kaustik soda
(NaOH), sodium hidroksida (KOH) atau urea (CO(NH2) 2.
Proses amoniasi dapat menggunakan urea sebagai bahan kimia agar
biayanya murah serta untuk menghindari polusi. Jumlah urea yang
diperlukan dalam proses amoniasi: 4 kg/100 kg jerami. Bahan lain yang
ditambahkan yaitu : air sebagai pelarut (1 liter air/1 kg jerami).
d) Pakan Pemacu
Merupakan sejenis pakan yang berperan sebagai pemacu pertumbuhan
dan peningkatan populasi mikroba di dalam rumen, sehingga dapat
merangsang penambahan jumlah konsumsi serat kasar yang akan
meningkatkan produksi.
Molases sebagai bahan dasar pakan pemacu merupakan bahan pakan
yang dapat difermentasi dan mengandung beberapa mineral penting.
Dapat memperbaiki formula menjadi lebih kompak, mengandung energi
cukup tinggi sehingga dapat meningkatkan palatabilitas serta citarasa.
Urea merupakan bahan pakan sumber nitrogen yang dapat difermentasi.
Setiap kilogram urea mempunyai nilai yang setara dengan 2,88 kg protein
kasar (6,25X46%). Dalam proporsi tertentu mempunyai dampak positif
terhadap peningkatan konsumsi serat kasar dan daya cerna.
1. Proses Pembuatan
Dilakukan dalam suasana hangat dan bertahap :
- Molases (29% dari total formula) dipanaskan pada suhu ± 50 derajat
C.
- Buat campuran I (tapioka 16%, dedak padi 18%, bungkil kedelai
13%).
- Buat campuran II (urea: 5%, kapur 4%, garam 9%).
- Buat campuran III (tepung tulang 5% dan mineral 1%).
Republished by Sapi Qurban Kurban Cipelang Farm
TTG BUDIDAYA PERIKANAN
Hal. 11/ 13
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
- Buat campuran IV dari campuran I, II, III yang diaduk merata.
- Masukkan campuran IV sedikit sedikit ke dalam molases, diaduk
hingga merata (±15 menit).
- Masukkan dalam mangkok/cetakan kayu beralas plastik dan
padatkan.
- Simpan di tempat teduh dan kering.
2. Kualitas Nutrisi
Hasil analisis proksimat, pakan pamacu yang dibuat dengan formulasi
tersebut mempunyai nilai nutrisi sebagai berikut: Energi 1856 Kcal,
protein 24%, kalsium 2,83% dan fosfor 0,5%.
3. Jumlah dan Metode Pemberian
Pemberian pakan pamacu dapat meningkatkan konsentrasi amonia
dalam rumen dari (60-100) mgr/liter menjadi 150-250 mgr/liter. Jumlah
pemberian pakan pemacu disesuaikan dengan jenis dan berat badan
ternak. Untuk ternak ruminansia kecil (domba/kambing) maksimum 4
gram untuk setiap berat badan. Untuk ternak ruminansia besar (sapi) 2
gram untuk setiap berat badan dan 3,8 gram untuk kerbau. Pemberian
pakan pemacu sangat cocok bagi ternak ruminansia yang
digembalakan dan diberi sisa tanaman pangan seperti jerami atau
bahan pakan berkadar protein rendah.
Republished by Sapi Qurban Kurban Cipelang Farm
e) Pakan Penguat
Pakan penguat atau konsentrat yang berbentuk seperti tepung adalah
sejenis pakan komplet yang dibuat khusus untuk meningkatkan produksi
dan berperan sebagai penguat. Mudah dicerna, karena terbuat dari
campuran beberapa bahan pakan sumber energi (biji-bijian, sumber
protein jenis bungkil, kacang-kacangan, vitamin dan mineral). Beberapa
hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan pakan penguat:
1. Ketersediaan Harga Satuan Bahan Pakan
Beberapa bahan pakan mudah diperoleh di suatu daerah, dengan
harga bervariasi, sedang di beberapa daerah lain sulit didapat. Harga
perunit bahan pakan sangat berbeda antara satu daerah dan daerah
lain, sehingga keseragaman harga per unit nutrisi (bukan harga per unit
berat) perlu dihitung terlebih dahulu.
2. Standar kualitas Pakan Penguat
Kualitas pakan penguat dinyatakan dengan nilai nutrisi yang
dikandungnya terutama kandungan energi dan potein. Sebagai
pedoman, setiap Kg pakan penguat harus mengandung minimal 2500
Kcal energi dan 17% protein, serat kasar 12%.
3. Metode dan Teknik Pembuatan
Metode formulasi untuk pakan penguat adalah metode simultan,
metode segiempat bertingkat, metode aljabar, metode konstan kontrol,
metode ekuasi atau metode grafik.
Republished by Sapi Qurban Kurban Cipelang Farm
TTG BUDIDAYA PERIKANAN
Hal. 12/ 13
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
4. Prosedur Memformulasi
- Buat daftar bahan pakan yang akan digunakan, kandungan
nutrisinya (energi, potein), harga per unit berat, harga per unit energi
dan harga per unit protein.
- Tentukan standar kualitas nutrisi pakan penguat yang akan dibuat.
- Memformulasi, dilakukan pada form formulasi.
- Tentukan sebanyak 2% (pada kolom %) bahan pakan sebagai
sumber vitamin dan mineral.
- Tentukan sebanyak 30% bahan pakan yang mempunyai kandungan
energi lebih tinggi daripada kandungan energi pakan penguat, tetapi
harga per unit energinya yang paling murah (dapat digunakan lebih
dari 1 macam bahan pakan).
- Tentukan sebanyak 18% bahan pakan yang mempunyai kandungan
protein lebih tinggi daripada kandungan protein pakan penguat,
tetapi harga per unit proteinnya paling murah.
- Jumlahkan (% bahan, Kcal energi, % protein dan harganya), maka
50% formula sudah diperoleh.
- Lakukan pengecekan kualitas dengan membandingkan kualitas
nutrisi %0% formula dengan kualitas nutrisi 50% pakan penguat.
Republished by Sapi Qurban Kurban Cipelang Farm
GARANSI SAPI SEHAT CIPELANGFARM :
1. Sapi dilengkapi SKKH (Surat Keterangan Kesehatan Hewan)
2. Sapi diberikan KALUNG SEHAT tanda lulus uji kesehatan.
3. Sapi bisa dikembalikan/ditukar jika sampai ke-pembeli tidak dalam keadaan SEHAT.
Tampilkan postingan dengan label sapi kurban 2013. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sapi kurban 2013. Tampilkan semua postingan
Selasa, 04 Desember 2012
Minggu, 02 Desember 2012
MENGENAL PAKAN SAPI QURBAN 2
Republished by Sapi Qurban Cipelang Farm
PEDOMAN TEKNIS PEMBUATAN/PENGOLAHAN
5.1. Kebutuhan Pakan
Kebutuhan ternak terhadap pakan dicerminkan oleh kebutuhannya terhadap
nutrisi. Jumlah kebutuhan nutrisi setiap harinya sangat bergantung pada jenis
ternak, umur, fase (pertumbuhan, dewasa, bunting, menyusui), kondisi tubuh
(normal, sakit) dan lingkungan tempat hidupnya (temperatur, kelembaban nisbi
TTG BUDIDAYA PERIKANAN
Hal. 4/ 13
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
udara) serta bobot badannya. Maka, setiap ekor ternak yang berbeda
kondisinya membutuhkan pakan yang berbeda pula.
Rekomendasi yang diberikan oleh Badan Penelitian Internasional (National
Research Council) mengenai standardisasi kebutuhan ternak terhadap pakan
dinyatakan dengan angka-angka kebutuhan nutrisi ternak ruminansia.
Rekomendasi tersebut dapat digunakan sebagai patokan untuk menentukan
kebutuhan nutrisi ternak ruminansia, yang akan dipenuhi oleh bahan-bahan
pakan yang sesuai/bahan-bahan pakan yang mudah diperoleh di lapangan.
5.2. Konsumsi Pakan
Ternak ruminansia yang normal (tidak dalam keadaan sakit/sedang
berproduksi), mengkonsumsi pakan dalam jumlah yang terbatas sesuai dengan
kebutuhannya untuk mencukupi hidup pokok. Kemudian sejalan dengan
pertumbuhan, perkembangan kondisi serta tingkat produksi yang dihasilkannya,
konsumsi pakannya pun akan meningkat pula.
Tinggi rendah konsumsi pakan pada ternak ruminansia sangat dipengaruhi oleh
faktor eksternal (lingkungan) dan faktor internal (kondisi ternak itu sendiri).
a) Temperatur Lingkungan
Ternak ruminansia dalam kehidupannya menghendaki temperatur
lingkungan yang sesuai dengan kehidupannya, baik dalam keadaan sedang
berproduksi maupun tidak. Kondisi lingkungan tersebut sangat bervariasi dan
erat kaitannya dengan kondisi ternak yang bersangkutan yang meliputi jenis
ternak, umur, tingkat kegemukan, bobot badan, keadaan penutup tubuh
(kulit, bulu), tingkat produksi dan tingkat kehilangan panas tubuhnya akibat
pengaruh lingkungan.
Apabila terjadi perubahan kondisi lingkungan hidupnya, maka akan terjadi
pula perubahan konsumsi pakannya. Konsumsi pakan ternak biasanya
menurun sejalan dengan kenaikan temperatur lingkungan. Makin tinggi
temperatur lingkungan hidupnya, maka tubuh ternak akan terjadi kelebihan
panas, sehingga kebutuhan terhadap pakan akan turun. Sebaliknya, pada
temperatur lingkungan yang lebih rendah, ternak akan membutuhkan pakan
karena ternak membutuhkan tambahan panas. Pengaturan panas tubuh dan
pembuangannya pada keadaan kelebihan panas dilakukan ternak dengan
cara radiasi, konduksi, konveksi dan evaporasi.
b) Palatabilitas
Palatabilitas merupakan sifat performansi bahan-bahan pakan sebagai akibat
dari keadaan fisik dan kimiawi yang dimiliki oleh bahan-bahan pakan yang
dicerminkan oleh organoleptiknya seperti kenampakan, bau, rasa (hambar,
asin, manis, pahit), tekstur dan temperaturnya. Hal inilah yang
menumbuhkan daya tarik dan merangsang ternak untuk mengkonsumsinya.
TTG BUDIDAYA PERIKANAN
Republished by Sapi Qurban Cipelang Farm
Hal. 5/ 13
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
Ternak ruminansia lebih menyukai pakan rasa manis dan hambar daripada
asin/pahit. Mereka juga lebih menyukai rumput segar bertekstur baik dan
mengandung unsur nitrogen (N) dan fosfor (P) lebih tinggi.
c) Selera
Selera sangat bersifat internal, tetapi erat kaitannya dengan keadaan “lapar”.
Pada ternak ruminansia, selera merangsang pusat saraf (hyphotalamus)
yang menstimulasi keadaan lapar. Ternak akan berusaha mengatasi kondisi
ini dengan cara mengkonsumsi pakan. Dalam hal ini, kadang-kadang terjadi
kelebihan konsumsi (overat) yang membahayakan ternak itu sendiri.
d) Status fisiologi
Status fisiologi ternak ruminansia seperti umur, jenis kelamin, kondisi tubuh
(misalnya bunting atau dalam keadaan sakit) sangat mempengaruhi
konsumsi pakannya.
Republished by Sapi Qurban Cipelang Farm
e) Konsentrasi Nutrisi
Konsentrasi nutrisi yang sangat berpengaruh terhadap konsumsi pakan
adalah konsentrasi energi yang terkandung di dalam pakan. Konsentrasi
energi pakan ini berbanding terbalik dengan tingkat konsumsinya. Makin
tinggi konsentrasi energi di dalam pakan, maka jumlah konsumsinya akan
menurun. Sebaliknya, konsumsi pakan akan meningkat jika konsentrasi
energi yang dikandung pakan rendah.
f) Bentuk Pakan
Ternak ruminansia lebih menyukai pakan bentuk butiran (hijauan yang dibuat
pellet atau dipotong) daripada hijauan yang diberikan seutuhnya. Hal ini
berkaitan erat dengan ukuran partikel yang lebih mudah dikonsumsi dan
dicerna. Oleh karena itu, rumput yang diberikan sebaiknya dipotong-potong
menjadi partikel yang lebih kecil dengan ukuran 3-5 cm.
g) Bobot Tubuh
Bobot tubuh ternak berbanding lurus dengan tingkat konsumsi pakannya.
Makin tinggi bobot tubuh, makin tinggi pula tingkat konsumsi terhadap pakan.
Meskipun demikian, kita perlu mengetahui satuan keseragaman berat badan
ternak yang sangat bervariasi. Hal ini dapat dilakukan dengan cara
mengestimasi berat badannya, kemudian dikonversikan menjadi “berat
badan metabolis” yang merupakan bobot tubuh ternak tersebut.
Berat badan ternak dapat diketahui dengan alat timbang. Dalam praktek di
lapangan, berat badan ternak dapat diukur dengan cara mengukur panjang
badan dan lingkar dadanya. Kemudian berat badan diukur dengan
menggunakan formula:
Berat badan = Panjang badan (inci) x Lingkar Dada2 (inci) / 661
Berat badan metabolis (bobot tubuh) dapat dihitung dengan cara
meningkatkan berat badan dengan nilai 0,75
Republished by Sapi Qurban Cipelang Farm
TTG BUDIDAYA PERIKANAN
Hal. 6/ 13
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
Berat Badan Metabolis = (Berat Badan)0,75
h) Produksi
Ternak ruminansia, produksi dapat berupa pertambahan berat badan (ternak
potong), air susu (ternak perah), tenaga (ternak kerja) atau kulit dan bulu/wol.
Makin tinggi produk yang dihasilkan, makin tinggi pula kebutuhannya
terhadap pakan. Apabila jumlah pakan yang dikonsumsi (disediakan) lebih
rendah daripada kebutuhannya, ternak akan kehilangan berat badannya
(terutama selama masa puncak produksi) di samping performansi
produksinya tidak optimal.
Republished by Sapi Qurban Cipelang Farm
PEDOMAN TEKNIS PEMBUATAN/PENGOLAHAN
5.1. Kebutuhan Pakan
Kebutuhan ternak terhadap pakan dicerminkan oleh kebutuhannya terhadap
nutrisi. Jumlah kebutuhan nutrisi setiap harinya sangat bergantung pada jenis
ternak, umur, fase (pertumbuhan, dewasa, bunting, menyusui), kondisi tubuh
(normal, sakit) dan lingkungan tempat hidupnya (temperatur, kelembaban nisbi
TTG BUDIDAYA PERIKANAN
Hal. 4/ 13
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
udara) serta bobot badannya. Maka, setiap ekor ternak yang berbeda
kondisinya membutuhkan pakan yang berbeda pula.
Rekomendasi yang diberikan oleh Badan Penelitian Internasional (National
Research Council) mengenai standardisasi kebutuhan ternak terhadap pakan
dinyatakan dengan angka-angka kebutuhan nutrisi ternak ruminansia.
Rekomendasi tersebut dapat digunakan sebagai patokan untuk menentukan
kebutuhan nutrisi ternak ruminansia, yang akan dipenuhi oleh bahan-bahan
pakan yang sesuai/bahan-bahan pakan yang mudah diperoleh di lapangan.
5.2. Konsumsi Pakan
Ternak ruminansia yang normal (tidak dalam keadaan sakit/sedang
berproduksi), mengkonsumsi pakan dalam jumlah yang terbatas sesuai dengan
kebutuhannya untuk mencukupi hidup pokok. Kemudian sejalan dengan
pertumbuhan, perkembangan kondisi serta tingkat produksi yang dihasilkannya,
konsumsi pakannya pun akan meningkat pula.
Tinggi rendah konsumsi pakan pada ternak ruminansia sangat dipengaruhi oleh
faktor eksternal (lingkungan) dan faktor internal (kondisi ternak itu sendiri).
a) Temperatur Lingkungan
Ternak ruminansia dalam kehidupannya menghendaki temperatur
lingkungan yang sesuai dengan kehidupannya, baik dalam keadaan sedang
berproduksi maupun tidak. Kondisi lingkungan tersebut sangat bervariasi dan
erat kaitannya dengan kondisi ternak yang bersangkutan yang meliputi jenis
ternak, umur, tingkat kegemukan, bobot badan, keadaan penutup tubuh
(kulit, bulu), tingkat produksi dan tingkat kehilangan panas tubuhnya akibat
pengaruh lingkungan.
Apabila terjadi perubahan kondisi lingkungan hidupnya, maka akan terjadi
pula perubahan konsumsi pakannya. Konsumsi pakan ternak biasanya
menurun sejalan dengan kenaikan temperatur lingkungan. Makin tinggi
temperatur lingkungan hidupnya, maka tubuh ternak akan terjadi kelebihan
panas, sehingga kebutuhan terhadap pakan akan turun. Sebaliknya, pada
temperatur lingkungan yang lebih rendah, ternak akan membutuhkan pakan
karena ternak membutuhkan tambahan panas. Pengaturan panas tubuh dan
pembuangannya pada keadaan kelebihan panas dilakukan ternak dengan
cara radiasi, konduksi, konveksi dan evaporasi.
b) Palatabilitas
Palatabilitas merupakan sifat performansi bahan-bahan pakan sebagai akibat
dari keadaan fisik dan kimiawi yang dimiliki oleh bahan-bahan pakan yang
dicerminkan oleh organoleptiknya seperti kenampakan, bau, rasa (hambar,
asin, manis, pahit), tekstur dan temperaturnya. Hal inilah yang
menumbuhkan daya tarik dan merangsang ternak untuk mengkonsumsinya.
TTG BUDIDAYA PERIKANAN
Republished by Sapi Qurban Cipelang Farm
Hal. 5/ 13
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
Ternak ruminansia lebih menyukai pakan rasa manis dan hambar daripada
asin/pahit. Mereka juga lebih menyukai rumput segar bertekstur baik dan
mengandung unsur nitrogen (N) dan fosfor (P) lebih tinggi.
c) Selera
Selera sangat bersifat internal, tetapi erat kaitannya dengan keadaan “lapar”.
Pada ternak ruminansia, selera merangsang pusat saraf (hyphotalamus)
yang menstimulasi keadaan lapar. Ternak akan berusaha mengatasi kondisi
ini dengan cara mengkonsumsi pakan. Dalam hal ini, kadang-kadang terjadi
kelebihan konsumsi (overat) yang membahayakan ternak itu sendiri.
d) Status fisiologi
Status fisiologi ternak ruminansia seperti umur, jenis kelamin, kondisi tubuh
(misalnya bunting atau dalam keadaan sakit) sangat mempengaruhi
konsumsi pakannya.
Republished by Sapi Qurban Cipelang Farm
e) Konsentrasi Nutrisi
Konsentrasi nutrisi yang sangat berpengaruh terhadap konsumsi pakan
adalah konsentrasi energi yang terkandung di dalam pakan. Konsentrasi
energi pakan ini berbanding terbalik dengan tingkat konsumsinya. Makin
tinggi konsentrasi energi di dalam pakan, maka jumlah konsumsinya akan
menurun. Sebaliknya, konsumsi pakan akan meningkat jika konsentrasi
energi yang dikandung pakan rendah.
f) Bentuk Pakan
Ternak ruminansia lebih menyukai pakan bentuk butiran (hijauan yang dibuat
pellet atau dipotong) daripada hijauan yang diberikan seutuhnya. Hal ini
berkaitan erat dengan ukuran partikel yang lebih mudah dikonsumsi dan
dicerna. Oleh karena itu, rumput yang diberikan sebaiknya dipotong-potong
menjadi partikel yang lebih kecil dengan ukuran 3-5 cm.
g) Bobot Tubuh
Bobot tubuh ternak berbanding lurus dengan tingkat konsumsi pakannya.
Makin tinggi bobot tubuh, makin tinggi pula tingkat konsumsi terhadap pakan.
Meskipun demikian, kita perlu mengetahui satuan keseragaman berat badan
ternak yang sangat bervariasi. Hal ini dapat dilakukan dengan cara
mengestimasi berat badannya, kemudian dikonversikan menjadi “berat
badan metabolis” yang merupakan bobot tubuh ternak tersebut.
Berat badan ternak dapat diketahui dengan alat timbang. Dalam praktek di
lapangan, berat badan ternak dapat diukur dengan cara mengukur panjang
badan dan lingkar dadanya. Kemudian berat badan diukur dengan
menggunakan formula:
Berat badan = Panjang badan (inci) x Lingkar Dada2 (inci) / 661
Berat badan metabolis (bobot tubuh) dapat dihitung dengan cara
meningkatkan berat badan dengan nilai 0,75
Republished by Sapi Qurban Cipelang Farm
TTG BUDIDAYA PERIKANAN
Hal. 6/ 13
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
Berat Badan Metabolis = (Berat Badan)0,75
h) Produksi
Ternak ruminansia, produksi dapat berupa pertambahan berat badan (ternak
potong), air susu (ternak perah), tenaga (ternak kerja) atau kulit dan bulu/wol.
Makin tinggi produk yang dihasilkan, makin tinggi pula kebutuhannya
terhadap pakan. Apabila jumlah pakan yang dikonsumsi (disediakan) lebih
rendah daripada kebutuhannya, ternak akan kehilangan berat badannya
(terutama selama masa puncak produksi) di samping performansi
produksinya tidak optimal.
Republished by Sapi Qurban Cipelang Farm
Jumat, 30 November 2012
PAKAN HIJAUAN UNTUK SAPI QURBAN PROBLEMATIKANYA 6
Republished by Cipelang Farm sapi Qurban Kurban 2013
Perlakuan kimia menggunakan alkali yang paling efektif menaikkan
kecernaan fibrous material adalah NaOH, tetapi tidak diikuti
kenaikan nutrien. Perlakuan NH3 pada jerami padi dapat menaikkan: a.
kandungan nitrogen, b. fermentasi rumen, c. konsumsi bahan kering, d.
kecernaan dan kecepatan pencernaan dinding sel dan bahan organik
(Utomo et al., 1988). Amonia yang diberikan pada roughages dapat
berfungsi: 1. Sebagai pengawet, 2. Penambah kandungan N, karena
sebagian N dari NH3 ada yang terfiksasi jaringan bahan pakan. 3.
Menaikkan kecernaan karena berperan juga mengembangkan jaringan
dan melonggarkan ikatan lignoselulosa sehingga memudahkan
penetrasi enzim selulase. Faktor-faktor yang mempengaruhi efektifitas
pengolahan fibrous material menggunakan NH3 adalah: a. dosis, b.
temperatur, c. tekanan, d. lama peram, e. kadar air bahan, f. jenis dan
kualitas jerami.
Cipelang Farm Sapi Qurban 2013
Dosis amonia antara 2-5% dari berat BK jerami, kurang dari 2%
belum berefek pada kecernaan, dosis lebih dari 5% tidak ada kenaikan
yang berarti. Temperatur yang optimum 20-100o C, proses amoniasi
akan berlangsung lambat pada temperatur < 0o C. Lama peram
(duration) tergantung temperatur dan macam jerami yang diperlakuan,
biasanya lama peram antara 1-8 minggu, disamping itu kadar air juga
penting karena air adalah media yang baik untuk reaksi kimia. Kadar
air yang baik untuk amoniasi antara 40-60% rata-rata 50% atau
penambahan air pada jerami kering 1:1 (Sundstol et al., 1978). Hasil
amoniasi tergantung jenis atau varietas jerami padi (misalnya IR64,
Cisadane, dll), kualitas awal jerami padi yang dipengaruhi oleh bagian
tanaman dan tingkat kekotoran yang disebabkan oleh lumpur misalnya.
Ada beberapa sumber NH3 antara lain: a. NH3 gas, b. NH3 cair,
dan c. Urea. Perlakuan jerami menggunakan NH3 gas membutuhkan
peralatan antara lain tangki gas dan penutup (cover) kedap udara.
Penggunaan NH3 cair peralatannya lebih sederhana. karena dapat
dituangkan pada tumpukan jerami baik yang sudah yang sudah di pres
ataupun belum, penyiraman sebaiknya dilakukan per lapis.
Republished by Cipelang Farm sapi Qurban Kurban 2013
Urea atau karbamida adalah sumber N yang mudah diperoleh
mengandung 46% N (Bo Gohl, 1975), hidrolisis sempurna 1 kg urea
menghasilkan 0,57 kg NH3, sehingga 6 kg urea menghasilkan 3-4 kg
NH3 yang dapat digunakan mengamoniasi 100 kg jerami padi kering
(Anonimus, 1983), penggunaan urea minimum 4% dari berat BK
jerami padi, diperam paling tidak 1 minggu, pada kadar air 50%
(Utomo et al., 1988). Penguraian atau hidrolisis urea menjadi amonia
membutuhkan air dan urease. Penguraian urea pada amoniasi urea
jerami padi terjadi tanpa pemberian urease karena perkembangnya
bakteri penghasil urease.
Cipelang Farm Sapi Qurban 2013
Penggunaan jerami padi yang ditambah urea 1%, tetes 8%, dan
diperam 14 hari, disuplementasi 10 kg rumput setaria segar, 3 kg dedak
halus dan 0,5 kg tepung daun pada sapi PFH jantan dengan berat awal
sekitar 300 kg dapat meghasilkan KBH 0,84 kg dengan konversi pakan
13,12, sedangkan bila jerami padinya tidak diperam hanya
menghasilkan KBH 0,68 kg dengan konversi pakan 15,81 (Soemitro et
al., 1988).
Amoniasi urea jerami padi dapat meniadakan penggunaan tepung
daun lamtoro atau urea sebagai suplemen pada pemberian jerami padi
dan dedak halus. Penggunaan jerami padi amoniasi urea (JPAU) pada
sapi PO sebanyak 6% dari berat BK jerami, diperam selama 14-28 hari
versus jerami padi (JP) yang diberikan secara ad libitum adalah
sebagai berikut: 1). JP + (2 kg dedak halus (DH) + 0,9 kg tepung daun
lamtoro) menghasilkan KBH 0,55 kg, 2). JP + (2,9 kg DH + 0,033 kg
urea) menghasilkan KBH 0,40 kg, 3). JPAU + 2,8 kg DH
menghasilkan KBH 0,71 kg (Utomo, 1986). Penggunaan JPAU
sebagai pakan basal pada ternak perah PFH yang disuplementasi
konsentrat komersial sebanyak 1,5 kg per 2 l produksi susu, ditambah
vitamin A komersial, dan rumput Gajah (Pennisetum purpureum)
sebagai pakan basal menghasilkan susu berturut-turut (9,72 vs 9,67,dan
9,49 liter/ekor/hari), dengan kualitas susu meliputi: BJ berturut-turut
(1,0277, 1,0278, dan 1,0275), kadar lemak (3,48%, 3,40%, dan
3,55%), serta Solid non fat (SNF) (7,97%, 8,10%, dan 8,00%).
Penggunaan JPAU sebagai pakan basal pada domba jantan peranakan
ekor gemuk sebagai pengganti rumput gajah, yang diberi konsentrat
400 gram per ekor per hari menghasilkan KBH 0,14 vs 0,11 kg,
dengan konversi ransum 7,25 vs 7,35 (Utomo et al., 1998).
Republished by Cipelang Farm sapi Qurban Kurban 2013
Penggunaan JPAU sebagai pakan basal sapi PO disuplementasi
polard, dedak halus, dan onggok berturut-turut menghasilkan KBH
0,63 kg, 0,60 kg, dan 0,49 kg dengan konversi 9,22, 9,80, dan 10,88
(Soejono, 1996). Walaupun hasil penelitian telah banyak dan petani
telah merasakan manfaat pradigesti dengan amoniasi urea, tetapi
kebanyakan dari mereka enggan melaksanakannya. Mereka kebanyakan
merupakan petani subsisten yang kesediaan pada perubahan
sangat kecil, mereka cenderung mempertahankan dan menyelamatkan
apa yang masih ada daripada mengatasi kesulitan ekonomi dengan
ekonomi (Harahab, 1988). Penggunaan urea untuk amoniasi semakin
ditinggalkan sejak harga urea mahal karena subsidi dicabut.
Republished by Cipelang Farm sapi Qurban Kurban 2013
Perlakuan biologi. Perlakuan biologi bertujuan mengubah struktur
fisik jerami padi oleh enzim delignifikasi dan menaikkan
kandungan protein dengan mikroorganisme. Perlakuan biologi pada
dasarnya adalah pengkomposan terbatas (Utomo, 1999b), merupakan
penyimpanan sekaligus pradigesti untuk meningkatkan kualitas yang
dapat dilakukan dengan jalan pengomposan, pembuatan silage,
penumbuhan jamur atau penambahan enzim (Soejono et al., 1988).
Cipelang Farm Sapi Qurban 2013
Jamur merupakan salah satu pilihan karena: 1. terdapat secara bebas di
alam pada sisa-sisa pertanian, kotoran ternak, dan sampah, 2. sebagian
besar jamur punya enzim selulolitik sehingga mampu memecah sisasisa
tanaman sebagai sumber tenaganya, 3. dapat hidup dalam suasana
aerob dan dapat berkembang sendiri serta tidak menimbulkan bau yang
merangsang seperti pada proses anaerob, 4. dapat digunakan sebagai
sumber protein (Budhi dan Gutte, 1984). Selama pengomposan terjadi
dekomposisi bahan organik melalui proses biokimia yang melibatkan
mikroorganisme (Doyle et al., 1986; Soejono et al., 1988). Pada awal
pengomposan akan terjadi kenaikan temperatur, mikroorganisme
memperbanyak diri. Akhirnya degradasi berlangsung lambat sampai
titik keseimbangan tercapai. Selama proses fermentasi aerobik
persentase protein, abu dan lignin akan naik. Kecepatan degradasi
material tergantung beberapa faktor antara lain: kadar air, O2, pH,
ketersediaan nutrien, dan prevalensi tipe mikro-organisme. Jerami padi
sering dikomposkan menggunakan jamur atau feses sebagai inokulum,
sekaligus sebagai penambah air dan nutrien (Doyle et al., 1986).
Republished by Cipelang Farm sapi Qurban Kurban 2013
Perlakuan kimia menggunakan alkali yang paling efektif menaikkan
kecernaan fibrous material adalah NaOH, tetapi tidak diikuti
kenaikan nutrien. Perlakuan NH3 pada jerami padi dapat menaikkan: a.
kandungan nitrogen, b. fermentasi rumen, c. konsumsi bahan kering, d.
kecernaan dan kecepatan pencernaan dinding sel dan bahan organik
(Utomo et al., 1988). Amonia yang diberikan pada roughages dapat
berfungsi: 1. Sebagai pengawet, 2. Penambah kandungan N, karena
sebagian N dari NH3 ada yang terfiksasi jaringan bahan pakan. 3.
Menaikkan kecernaan karena berperan juga mengembangkan jaringan
dan melonggarkan ikatan lignoselulosa sehingga memudahkan
penetrasi enzim selulase. Faktor-faktor yang mempengaruhi efektifitas
pengolahan fibrous material menggunakan NH3 adalah: a. dosis, b.
temperatur, c. tekanan, d. lama peram, e. kadar air bahan, f. jenis dan
kualitas jerami.
Cipelang Farm Sapi Qurban 2013
Dosis amonia antara 2-5% dari berat BK jerami, kurang dari 2%
belum berefek pada kecernaan, dosis lebih dari 5% tidak ada kenaikan
yang berarti. Temperatur yang optimum 20-100o C, proses amoniasi
akan berlangsung lambat pada temperatur < 0o C. Lama peram
(duration) tergantung temperatur dan macam jerami yang diperlakuan,
biasanya lama peram antara 1-8 minggu, disamping itu kadar air juga
penting karena air adalah media yang baik untuk reaksi kimia. Kadar
air yang baik untuk amoniasi antara 40-60% rata-rata 50% atau
penambahan air pada jerami kering 1:1 (Sundstol et al., 1978). Hasil
amoniasi tergantung jenis atau varietas jerami padi (misalnya IR64,
Cisadane, dll), kualitas awal jerami padi yang dipengaruhi oleh bagian
tanaman dan tingkat kekotoran yang disebabkan oleh lumpur misalnya.
Ada beberapa sumber NH3 antara lain: a. NH3 gas, b. NH3 cair,
dan c. Urea. Perlakuan jerami menggunakan NH3 gas membutuhkan
peralatan antara lain tangki gas dan penutup (cover) kedap udara.
Penggunaan NH3 cair peralatannya lebih sederhana. karena dapat
dituangkan pada tumpukan jerami baik yang sudah yang sudah di pres
ataupun belum, penyiraman sebaiknya dilakukan per lapis.
Republished by Cipelang Farm sapi Qurban Kurban 2013
Urea atau karbamida adalah sumber N yang mudah diperoleh
mengandung 46% N (Bo Gohl, 1975), hidrolisis sempurna 1 kg urea
menghasilkan 0,57 kg NH3, sehingga 6 kg urea menghasilkan 3-4 kg
NH3 yang dapat digunakan mengamoniasi 100 kg jerami padi kering
(Anonimus, 1983), penggunaan urea minimum 4% dari berat BK
jerami padi, diperam paling tidak 1 minggu, pada kadar air 50%
(Utomo et al., 1988). Penguraian atau hidrolisis urea menjadi amonia
membutuhkan air dan urease. Penguraian urea pada amoniasi urea
jerami padi terjadi tanpa pemberian urease karena perkembangnya
bakteri penghasil urease.
Cipelang Farm Sapi Qurban 2013
Penggunaan jerami padi yang ditambah urea 1%, tetes 8%, dan
diperam 14 hari, disuplementasi 10 kg rumput setaria segar, 3 kg dedak
halus dan 0,5 kg tepung daun pada sapi PFH jantan dengan berat awal
sekitar 300 kg dapat meghasilkan KBH 0,84 kg dengan konversi pakan
13,12, sedangkan bila jerami padinya tidak diperam hanya
menghasilkan KBH 0,68 kg dengan konversi pakan 15,81 (Soemitro et
al., 1988).
Amoniasi urea jerami padi dapat meniadakan penggunaan tepung
daun lamtoro atau urea sebagai suplemen pada pemberian jerami padi
dan dedak halus. Penggunaan jerami padi amoniasi urea (JPAU) pada
sapi PO sebanyak 6% dari berat BK jerami, diperam selama 14-28 hari
versus jerami padi (JP) yang diberikan secara ad libitum adalah
sebagai berikut: 1). JP + (2 kg dedak halus (DH) + 0,9 kg tepung daun
lamtoro) menghasilkan KBH 0,55 kg, 2). JP + (2,9 kg DH + 0,033 kg
urea) menghasilkan KBH 0,40 kg, 3). JPAU + 2,8 kg DH
menghasilkan KBH 0,71 kg (Utomo, 1986). Penggunaan JPAU
sebagai pakan basal pada ternak perah PFH yang disuplementasi
konsentrat komersial sebanyak 1,5 kg per 2 l produksi susu, ditambah
vitamin A komersial, dan rumput Gajah (Pennisetum purpureum)
sebagai pakan basal menghasilkan susu berturut-turut (9,72 vs 9,67,dan
9,49 liter/ekor/hari), dengan kualitas susu meliputi: BJ berturut-turut
(1,0277, 1,0278, dan 1,0275), kadar lemak (3,48%, 3,40%, dan
3,55%), serta Solid non fat (SNF) (7,97%, 8,10%, dan 8,00%).
Penggunaan JPAU sebagai pakan basal pada domba jantan peranakan
ekor gemuk sebagai pengganti rumput gajah, yang diberi konsentrat
400 gram per ekor per hari menghasilkan KBH 0,14 vs 0,11 kg,
dengan konversi ransum 7,25 vs 7,35 (Utomo et al., 1998).
Republished by Cipelang Farm sapi Qurban Kurban 2013
Penggunaan JPAU sebagai pakan basal sapi PO disuplementasi
polard, dedak halus, dan onggok berturut-turut menghasilkan KBH
0,63 kg, 0,60 kg, dan 0,49 kg dengan konversi 9,22, 9,80, dan 10,88
(Soejono, 1996). Walaupun hasil penelitian telah banyak dan petani
telah merasakan manfaat pradigesti dengan amoniasi urea, tetapi
kebanyakan dari mereka enggan melaksanakannya. Mereka kebanyakan
merupakan petani subsisten yang kesediaan pada perubahan
sangat kecil, mereka cenderung mempertahankan dan menyelamatkan
apa yang masih ada daripada mengatasi kesulitan ekonomi dengan
ekonomi (Harahab, 1988). Penggunaan urea untuk amoniasi semakin
ditinggalkan sejak harga urea mahal karena subsidi dicabut.
Republished by Cipelang Farm sapi Qurban Kurban 2013
Perlakuan biologi. Perlakuan biologi bertujuan mengubah struktur
fisik jerami padi oleh enzim delignifikasi dan menaikkan
kandungan protein dengan mikroorganisme. Perlakuan biologi pada
dasarnya adalah pengkomposan terbatas (Utomo, 1999b), merupakan
penyimpanan sekaligus pradigesti untuk meningkatkan kualitas yang
dapat dilakukan dengan jalan pengomposan, pembuatan silage,
penumbuhan jamur atau penambahan enzim (Soejono et al., 1988).
Cipelang Farm Sapi Qurban 2013
Jamur merupakan salah satu pilihan karena: 1. terdapat secara bebas di
alam pada sisa-sisa pertanian, kotoran ternak, dan sampah, 2. sebagian
besar jamur punya enzim selulolitik sehingga mampu memecah sisasisa
tanaman sebagai sumber tenaganya, 3. dapat hidup dalam suasana
aerob dan dapat berkembang sendiri serta tidak menimbulkan bau yang
merangsang seperti pada proses anaerob, 4. dapat digunakan sebagai
sumber protein (Budhi dan Gutte, 1984). Selama pengomposan terjadi
dekomposisi bahan organik melalui proses biokimia yang melibatkan
mikroorganisme (Doyle et al., 1986; Soejono et al., 1988). Pada awal
pengomposan akan terjadi kenaikan temperatur, mikroorganisme
memperbanyak diri. Akhirnya degradasi berlangsung lambat sampai
titik keseimbangan tercapai. Selama proses fermentasi aerobik
persentase protein, abu dan lignin akan naik. Kecepatan degradasi
material tergantung beberapa faktor antara lain: kadar air, O2, pH,
ketersediaan nutrien, dan prevalensi tipe mikro-organisme. Jerami padi
sering dikomposkan menggunakan jamur atau feses sebagai inokulum,
sekaligus sebagai penambah air dan nutrien (Doyle et al., 1986).
Republished by Cipelang Farm sapi Qurban Kurban 2013
Senin, 08 Oktober 2012
SWASEMBADA TERNAK SAPI 3 Republished by Sapi Qurban / Kurban 2013 harga murah Cipelang Farm
SWASEMBADA TERNAK SAPI 3
Republished by Sapi Qurban / Kurban harga murah Cipelang Farm
6. Penyediaan dan
pengembangan pakan dan air
Kegiatan ini ditargetkan untuk dapat memenuhi
kebutuhan air minum dan
pakan pada saat musim kering, seiring dengan
peningkatan jumlah ternak sapi,
dengan melaksanakan kegiatan operasional
sebagai berikut:
a. Penambahan penyediaan pakan dan air,
dengan cara :
1) Penanaman dan pengembangan sumber
benih/bibit tanaman pakan
ternak (TPT).
a) Inventarisasi lokasi sumber dan jenis
benih/bibit tanaman pakan
ternak (rumput atau legume) di
Indonesia.
b) Penanaman benih/bibit tanaman pakan ternak
di BPTU, UPTD
daerah dan kawasan pengembangan ternak.
c) Pengembangan feed bank (lumbung
pakan).
2) Pembuatan embung, pompa air, dan
konservasi lahan untuk
menjamin ketersediaan air minum saat musim
kemarau.
3) Pengembangan desa mandiri pakan melalui
gerakan massal
penanaman tanaman pakan dan pemanfaatan
limbah pertanian di
lokasi kelompok peternak sapi potong (antara
lain kelompok PMUK,
BPLM, SMD, LM3) dan di lokasi lain seperti
daerah aliran sungai,
sekitar embung, lahan kritis, tambang
batubara, dan bekas lahan
hutan produksi, atau terintegrasi dengan
lahan perkebunan dalam
4) Perluasan dan revitalisasi padang
penggembalaan di wilayah yang
berpotensi untuk pengembangan ternak pola grazing.
5) Peningkatan pemanfaatan limbah
agroindustri seperti limbah atau
hasil samping perkebunan atau pabrik
pengolahan sawit (bungkil inti
sawit), pabrik gula (tetes), dan pabrik
penggilingan padi (dedak).
b. Pengembangan teknologi dan industri pakan
ternak berbasis sumber daya
lokal, dengan cara:
1) Pengembangan teknologi pakan, melalui
aplikasi teknologi pakan
(pengolahan, pengawetan, penyimpanan) dan
pengadaan
peralatannya di kelompok peternak.
2) Penguatan kelembagaan yang menangani
pengujian dan
standarisasi mutu pakan.
3) Pengembangan mini feedmill di kelompok
peternak yang memiliki
populasi ternak dengan jumlah minimal
tertentu.
26
4) Peningkatan kualitas SDM bidang pakan,
termasuk staf yang
memiliki jabatan fungsional pengawasan mutu
pakan (wastukan),
serta penyediaan tenaga baru untuk wastukan
di daerah/wilayah.
5) Restrukturisasi sistem tata niaga bahan
baku pakan lokal.
7. Penanggulangan gangguan
reproduksi dan peningkatan pelayanan
kesehatan hewan
Kegiatan ini ditargetkan untuk mengurangi
tingkat kegagalan reproduksi
sapi betina produktif yang telah dikawini/diinseminasi,
dengan melaksanakan
kegiatan operasional sebagai berikut:
a. Penanggulangan gangguan reproduksi, dengan
cara:
1) Pemeriksaan akseptor terhadap status
penyakit Brucellosis (khusus
di daerah yang belum bebas Brucellosis);
2) Peningkatan kualitas SDM yang menangani
penyakit reproduksi;
3) Pengadaan obat-obatan dan hormonal;
4) Penanganan ternak yang mengalami gangguan
reproduksi;
5) Monitoring, evaluasi, dan pelaporan.
b. Peningkatan pelayanan kesehatan hewan,
dengan cara:
1) Pembangunan pusat kesehatan hewan di
wilayah padat ternak.
2) Pemeriksaan, identifikasi, dan pemetaan
kasus parasit internal dan
kematian pedet.
3) Pengadaan obat-obatan parasit internal,
terapi antibiotika, dan
C. Pencegahan Pemotongan
Sapi Betina Produktif
8. Penyelamatan Sapi
Betina Produktif
Kegiatan ini ditargetkan untuk mencegah
pemotongan sapi betina
produktif sebanyak 150-200 ribu ekor per
tahun dengan melakukan penjaringan
dan penyelamatan pedet yang dilahirkan di
kelompok peternak, melalui
pelaksanaan kegiatan operasional sebagai
berikut :
a. Pemeriksaan reproduksi sapi betina
produktif di RPH dan di pasar hewan,
terutama yang masih berumur muda atau
berpotensi melahirkan anak
beberapa kali lagi.
b. Fasilitasi dana talangan untuk
menyelamatkan sapi betina produktif di
tingkat RPH dan mendistribusikannya ke
kelompok peternak terpilih.
27
c. Pembinaan kelompok peternak yang sudah
mengembangkan sapi betina
produktif hasil penjaringan dan kelompok
peternak pembibit lainnya.
d. Penambahan tenaga paramedis dan
peningkatan kemampuan teknis
petugas reproduksi.
D. Penyediaan Bibit Sapi
Lokal
Kegiatan ini ditargetkan untuk meningkatkan
jaminan ketersediaan benih dan
bibit sapi yang berkualitas dalam rangka
memenuhi kebutuhan sapi potong lokal
sehingga produksi daging di dalam negeri
dapat meningkat dan mencukupi
kebutuhan sebagian besar daging sapi, melalui
pelaksanaan kegiatan operasional
sebagai berikut:
9. Penguatan wilayah
sumber bibit dan kelembagaan usaha pembibitan,
dengan cara:
a. Pengidentifikasian wilayah yang berpotensi
sebagai sumber bibit sapi.
b. Penetapan wilayah sumber bibit sapi yang
memiliki potensi menghasilkan
bibit.
c. Penguatan Unit Pelaksana Teknis (UPT)
pembibitan dan sinergisme antar
UPT lingkup Kementerian Pertanian dalam
rangka seleksi, penjaringan,
dan penyediaan bibit sapi unggul.
10. Pengembangan usaha
pembibitan sapi potong melalui VBC, dengan cara:
a. Penyusunan kriteria Village Breeding
Centre (VBC) berdasarkan acuan
ilmiah.
b. Penambahan jumlah sapi bibit di kelompok
peternak yang sudah
berpengalaman sesuai dengan kemampuannya dan
mempunyai daya
dukung pakan yang memadai.
c. Pelatihan dan pendampingan kelompok
peternak dalam rangka
menerapkan program VBC berdasarkan prinsip Good
Breeding Practice.
d. Penetapan standard mutu bibit melalui
sertifikasi bibit untuk menjaga/
meningkatkan harga bibit di tingkat UPT
maupun di tingkat peternak.
11. Penyediaan sapi bibit
melalui subsidi bunga (KUPS), dengan cara:
a. Sosialisasi KUPS di pusat dan daerah oleh
Kemtan, Bank, Dinas/Pemda,
Asosiasi/Kelompok Peternak.
b. Pemetaan daerah yang berpotensi menyerap
program KUPS.
28
c. Koordinasi dan sinkronisasi pelaksanaan
KUPS antara Kemtan, Kemkeu,
Perbankan dan stakeholders terkait.
d. Monitoring ketersediaan ternak di dalam
dan luar negeri dengan kualitas
yang memadai dan harga yang kompetitif.
e. Identifikasi dan klarifikasi pelaksana dan
pemanfaatan KUPS.
f. Penguatan modal usaha kelompok peternak
sapi potong.
g. Pembinaan dan pengawasan pelaksanaan KUPS
secara berjenjang.
h. Koordinasi dengan Pemda untuk
pengalokasian dana (APBD/DAK/DAU)
untuk dana penjaminan KUPS pada bank daerah.
i. Pengintegrasian program KUPS dalam program
SMD.
E. Pengaturan Stock Daging
Sapi Dalam Negeri.
12. Pengaturan stock sapi
bakalan dan daging.
a. Pengaturan stock sapi bakalan.
Kegiatan ini ditargetkan untuk memberdayakan
usaha peternakan sapi
potong berbasis sumber daya lokal, melalui
kegiatan operasional sebagai
berikut:
1) Penerapan regulasi impor sapi bakalan
secara benar dan konsisten.
2) Penyusunan regulasi setingkat Peraturan
Menteri tentang pemasukan
dan pengeluaran sapi potong dan bibitnya;
serta penyusunan
pedoman (SOP) untuk impor sapi bakalan.
3) Pengawasan dan pemantauan kegiatan impor
sapi potong bakalan
sesuai dengan paraturan dan
perundang-undangan yang ada.
4) Pembinaan kepada perusahaan feedlot agar
mengkonversi usahanya
menjadi perusahaan penggemukan berbasis sapi
lokal atau menjadi
perusahaan pembibitan secara bertahap.
5) Revitalisasi sistem karantina hewan
terkait dengan impor bibit dan sapi
bakalan.
b. Pengaturan stock daging.
Kegiatan operasional ini bertujuan untuk
meningkatkan daya saing produk
daging lokal, melalui kegiatan operasional :
1) Penyempurnaan dan penegakan Peraturan
Menteri Pertanian tentang
pemasukan daging yang terjamin ASUH.
2) Pengawasan dan pemantauan kegiatan impor
daging sesuai dengan
peraturan dan perundang-undangan yang
berlaku.
29
3) Pembinaan kepada importir dan distributor
daging agar mendukung
pengembangan perdagangan daging sapi lokal.
4) Pengembangan klasifikasi potongan daging
sapi lokal.
13. Pengaturan distribusi
dan pemasaran sapi dan daging
a. Pengaturan distribusi dan pemasaran sapi.
Kegiatan ini ditargetkan untuk menjamin
ketersediaan sapi di dalam negeri
dan menjaga stabilitas harga sapi, melalui
kegiatan operasional sebagai
berikut:
1) Penetapan pengeluaran dan pemasukan sapi
untuk keperluan bibit
maupun pengembangan sapi antar wilayah oleh
pemerintah daerah
melalui koordinasi dengan pemerintah pusat.
2) Penyusunan regulasi setingkat Peraturan
Menteri tentang
pendistribusian dan pemasaran sapi.
3) Pengawasan dan pemantauan kegiatan
perdagangan sapi potong
antar wilayah, serta pendistribusian dan
pemasarannya.
4) Revitalisasi sistem karantina hewan
terkait dengan perdagangan
sapi bibit dan sapi bakalan antar wilayah.
5) Pengaturan distribusi dan pemasaran sapi
di dalam negeri.
b. Pengaturan distribusi dan pemasaran daging
di dalam negeri.
Kegiatan operasional ini bertujuan menjamin
ketersediaan daging di
dalam negeri dan menjaga stabilitas harga
daging, melalui kegiatan
operasional :
1) Peningkatan pengawasan dan pemantauan
distribusi daging impor
2) Pengendalian distribusi daging impor
berdasarkan kelengkapan
fasilitas rantai dingin dari importir sampai
ke ritel.
Langganan:
Postingan (Atom)
SEDIA SAPI QURBAN TIMBANG HIDUP
+ Pembeli lebih UNTUNG & ADIL
+ Transaksi lebih RIIL & PRESISI
+ Hewan Lebih SEHAT & FRESH karena dikirim langsung dari Peternakan.
+ Pembeli lebih UNTUNG & ADIL
+ Transaksi lebih RIIL & PRESISI
+ Hewan Lebih SEHAT & FRESH karena dikirim langsung dari Peternakan.
SAPI QURBAN SEHAT DAN SYAR'I
JENIS SAPI: PO, LIMOSIN, SIMETAL, JAWA, BALI, PEGON.
kontak :
0815-9080-785 (CALL/SMS/WA)
0812-8435-6162 (SMS/CALL)
0856-9233-4143 (CALL/SMS/WA)
BBM : 75fae2a6
email : cipelangfarm@gmail.com
Lokasi Kandang :
Jl. Balai Embrio Ternak (BET) Kp.Pasir Bogor Desa Cipelang Kec.Sijeruk Bogor
KLIK : PETA RUTE
STOCK SAPI QURBAN 2015
Silahkan KLIK !!!